PENGANTAR TENTANG PERADABAN ARAB DAN ISLAM
Pendahuluan
Seorang,
Yahudi berkebangsaan Rusia dan Mantan Perdana
Menteri Israel, Manachem Begin berdiri di depan piramid Giza dan menatapnya dengan decak kagum kemudian lisannya berkata dengan kebohongan yang besar, "saya melihat kebesaran
nenek moyang saya Pada piramid-piramid
ini." Dia lupa bahwa nenek moyangnya
tidak mampu, bahkan untuk membangun kuil Yahudi sekalipun.
Inilah
kebohongan Begin yang Pada kenyataannya menunjukkan
sikap orang-orang Eropa terhadap peradaban
Arab dan Islam. Padahal orang-orang Eropa telah belajar di sekolah-sekolah dan di universitas-universitas Arab dan mempelajari buku-buku Arab
dari bahasa aslinya atau setelah
diterjemahkan ke dalambahasa latin. Ketika
bangsa-bangsa Eropa telah kuat, mereka menyerang kerajaan-kerajaan Islam dengan
kekuatan militernya dan berhasil
mencuri jutaan jilid buku, kemudian
mereka merubah apa yang mereka dapatkan sebagai
ilmu dan pemikiran mereka. Setelah itu, ketika bangsa-bangsa Eropa telah mencapai puncak kemajuan yang besar dalam peradaban dan mampu
menciptakan sesuatu yang baru,
mereka sepenuhnya mengingkari kepeloporan
bangsa Arab dan kaum muslimin. Bahkan mereka
berpendapat bahwa bangsa Arab dan kaum muslimin
hanya sekedar "tukang pos" yang mengantarkan karya peradaban Yunani ke Eropa.
PERADABAN
ARAB DAN ISLAM
Peradaban merupakan pohon besar yang akarnya kokoh
menancap di bumi dan di atas bumi itu terdapat bangsa Arab dan Islam, sementara
di langit pohon itu menjulang memancarkan cahaya peradaban Arab dan Islam.
Beberapa abad sebelum munculnya Islam, daerah ini telah mengenal peradaban
lembah nil, peradaban lembah Dajlah dan Furat, peradaban Syam, peradaban Yaman,
peradaban Tunis, peradaban Bahrain, dan perabadan Persia. Peradaban Mesir,Iraq
dan Syam secara khusus memiliki pengaruh yang sangat besar bagi peradaban-peradaban
lain yangmuncul di daratan laut tengah seperti peradaban Al-Haitsyiyyin (Hitit)
di Anatolia (Asia Minor) , peradaban Minoa di Crete, peradaban Yunani dan
peradaban Romawi.
Peradaban Yunani merupakan peradaban masa lalu terpenting
yang ada di bumi Eropa, akan tetapi unsurunsur peradabannya terbentuk dari tiga
peradaban ini. Peradaban Yunani dan peradaban sebelumnya, yaitu peradaban Minoa
di Crete lebih banyak memiliki keterikatan dengan daerah Laut Mediterania dan pesisirnya
di tepi Timur dan Tenggara ,yang diantaranya terdapat di bumi benua Eropa,
sekalipun pada suatu saat nanti orang orang Eropa mengklaim bahwa itu adalah karya
peradaban Yunani yang mereka agungkan. Padahal kenyataannya, peradaban itu
adalah bagian dari peradaban masa lalu kita yang mereka adopsi melalui penyerangan
dan keterikatan secara biografis. Meskipun keterikatan ini tidak ada
hubungannya sama sekali dengan karakteristik rangkaian peradaban itu sendiri.
Sebelum munculnya Islam, kekacauan dan keruntuhan telah
menimpa semua peradaban besar yang ada di daerah itu, di antaranya adalah
peradaban Yunani. Akan tetapi peradaban ini tidak lenyap begitu saja, melainkan
sebagiannya tetap ada sekalipun tenggelam di bawah tanah sebagaimana yang
ditulis dalam buku-buku manuskrip besar yang menunjukkan bukti adanya peradaban
ini. Manuskrip-manuskrip ini masih tersimpan di Perpustakaan Negara Bizantium (Negara
Romawi Timur) dan secara dominan unsur peradabannya terdiri dari peradaban
Yunani Bahkan mereka juga berbahasa Yunani sekalipun banyak kemajuan yang
dicapai oleh bangsa Yunani kuno.
Ketika Islam
sebagai agama yang agung muncul dengan membawa benih-benih peradaban yang besar
dan secara terang-terangan menghimbau untuk mempelajari ilmu dan menjadikannya
sebagai jalan utama dalam kehidupan, maka para pecinta ilmu mulai mempelajari warisan
peradaban yang telah ada sebelumnya Warisan peradaban yang dipelajarinya secara
otomotis tentu dimulai dari peradaban terakhir yang mereka ketahui, yaitu
peradaban Yunani dan India, dan bukan peradaban yang sebelumnya dan lebih lama
usianya' Orang-orang Arab adalah bangsa yang sadar dan berprilaku baik sehingga
mereka tidak mengklaim karya bangsa lain dan mengaku-ngaku sebagai karyanya
sendiri, melainkan mereka tetap mengatakan sebagai karya pemilik yang sebenamya.
Kemudian setelah itu, mereka secara bertahap mempelajarinya, mengadakan riset,
dan menciptakan berbagai penemuan sehingga ilmu mereka bertambah dan mencapai
puncak kejayaannya sepanjang sejarah peradaban. Bahkan tidak separuh pun dari
nilai peradaban itu dapat tertandingi oleh peradaban lain yang telah ada
sebelumnya.
Peradaban yang besar ini di Barat disebut dengan nama
"The Islamic Civilization" atau peradaban Islam' Akan tetapi kita
selamanya lebih mengutamakan untuk menamakannya sebagai peradaban Arab dan Islam'
Disebut peradaban Arab, karena pertama kali peradaban ini muncul di kalangan
bangsa Arab, sekalipun kemudian meluas dan dikembangkan oleh generasi Islam
selain bangsa Arab, baik melalui transfer ilmu, kesamaan tipologi dan standar,
maupun bahasa dan tulisannya.
Sedangkan penyebutannya sebagai peradaban Islam, karena
Islam sebagai penggagasnya dan selamanya akan meniadi kekuatan yang
menggerakkannya dengan ajaran-ajarannya yang kekal, seperti "lqra,"
(bacalah!) dan firman Allah swt,
سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّ ۗ اَوَلَمْ يَكْفِ
۵۳ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ ﴿فصلت
"Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda(kekuasaan) Kami di segenap ufuk
dan pada diri mereka sendiri." (Fushshilat: 53).
Demikian juga dengan hadis Nabi SallallahuAlaih wa Sallam, "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang
lahat." Dan, "Tuntutlah
ilmu walaupun Sampai ke negeri Cina." Di sisi lain, peradaban ini
disebut peradaban Arab karena sebagian tokoh terbesarnya seperti; Hunain bin Ishaq,
Yohana bin Masawih, Nabit bin Qarrah, dan Ali bin Abbas Al-Majusi mereka adalah
orang-orang Arab akan tetapi non-muslim. Sedangkan disebut peradaban Islam, karena
sebagian tokohnya yang terbesar seperti; Ibnu Sina, Al-Biruni, Abu Bakar
Ar-Razi, dan Al-Khawarizmi mereka adalah orang-orang muslim, akan tetapi bukan orang
Arab. Dengan demikian penyebutan peradaban ini dengan sebutan peradaban Arab
dan Islam merupakan suatu penyebutan yang komprehensif dan membuat kita tidak
mengingkari keutamaan orang-orang non-Arab ataunon-muslim.
Di antara
yang membedakan peradaban Arab dan Islam karena pijakan peradaban ini adalah
agama Islam itu sendiri dan ini pulalah yang membedakannya dari kekuatan yang mempengaruhi
kejiwaan manusia dan mendorongnya ke jalan yang benar' Di samping itu, Islam juga
mengaiarkan nilai-nilai yang baik, toleransi, amanah dan kebersihan hati.
Ajaran seperti inilah yang memberikan kontribusi besar bagi peradaban-peradaban
antara lainya dan dapat diterima oleh orang lain selain bangsa Arab dan kaum
muslimin, sehingga Para pelopor peradaban ini bekerja keras dan bersungguh-sungguh
mencari kebenaran yang mutlak di mana pun mereka mendapatkannya. Mari kita baca
pengakuan seorang ilmuwan Inggris yang bernama Bernard Lewis, salah seorang
tokoh orientalis besar dan guru besar sejarah bangsa-bangsa Timur Dekat dan
Timur Tengah di Universitas London.
"Karakteristik pertama yang menarik perhatian kita adalah kemampuan menyeluruh yang dimiliki oleh kebudayaan Arab dan pada umumnya tidak didasarkan pada kekerasan dan meniru kebudayaan yang ada' Para penakluk dari kalangan bangsa Arab-untuk pertama kali dalam sejarah-telah berhasil menaklukkan wilayah yang membentang dari perbatasan India dan Cina hingga Tahoma di Yunani, Italia, dan Perancis, adakalanya dengan menggunakan kekuatan militer dan sebagiannya dengan kekuatan diplomasi dan politik. Kemudian setelah itu Islam dikenalkan dengan menggunakan bahasa dan akidah mereka. Bangsa Arab telah menyatukan antara dua peradaban yang pada masa lalu pernah berbenturan. Kedua peradaban itu adalah warisan peradaban laut tengah yang telah berusia seribu tahun (yaitu peradaban Yunani, Romawi, Bani Israil, peradaban kuno Timur Dekat) dan peradaban Persia yang memiliki karesteristik tersendiri dalam masalah kehidupan dan pemikiran dan hubungannya yang baik dengan peradaban-peradaban besar di Timur laut. Hal itu karena pergaulan dengan Berbagai jenis suku bangsa, akidah, dan kebudayaan di kalangan masyarakat muslim telah melahirkan peradaban baru yang bersifat multikultural apabila dilihat dari asal usulnya dan para penggagasnya, akan tetapi semuanya menampakkan ciri kearaban dan keislaman. Akibat interaksi multikultural yang terjadi di kalangan masyarakat muslim lahirlah karakteristik kedua dari peradaban Islam dan Arab yang secara khusus menarik perhatian orang Eropa, yaitu toleransi yang tinggi dibandingkan dengan masyarakat lainnya.
Tidak seperti orang-orang Barat, jarang sekali orang
muslim pada masa abad pertengahan yang memaksakan akidahnya dengan kekuatan
militer kepada daerah daerah yang telah dikuasainya. Padahal dalam kesadaran orang
Barat, orang-orang yang berbeda kepercayaan dengan mereka akan dicampakkan ke
dalam neraka pada waktu yang memungkinkan untuk itu. Akan tetapi orang muslim
sebaliknya, ia berpendapat bahwa tidak ada gunanya memaksakan ketentuan Tuhan
di muka bumi. Orang muslim menerima keberadaan berbagai kepercayaan lain dalam
masyarakat dengan tetap berpegang teguh kepada akidah mereka' Islam hanya
memberlakukan peraturan sosial dan hukum tertentu untuk menunjukkan
kekuasaannya, dan secara aktif memperingatkan orang-orang yang melupakan
kewajibarurya. Selain itu, Islam memberikan kebebasan sepenuhnya kepada mereka,
baik dalam kehidupan beragama, ekonomi, dan berbudaya, sebagaimana juga membiarkan
mereka memberikan kontribusi bagi peradabannya.
Bangsa
Arab Menyebarkan Peradaban di mana pun Mereka Berada
Hanya penaklukan yang dilakukan oleh Islam yang dapat
dikatakan sebagai penaklukan. Sedangkan selainnya hanyalah Perang dan serangan
militer. Hal ini karena penaklukan yang dilakukan oleh Islam terlebih dahulu
berupa "penaklukan akal" sebelum melakukan yang lain. Orang-orang
Arab-di mana pun mereka berada-telah menyebarkan ilmu pengetahuan, nilai-nilai peradaban,
keadilan, kebersihan dan toleransi. Cahaya peradaban mereka mampu menerangi gelapnya
kebodohan dan kejumudan, sehingga wajar apabila keadaan wilayah-wilayah yang
ditaklukkan mengalami perubahan yang sangat besar, seperti di daerah Andalusia.
Semua ini telah membuat sebagian peneliti di Barat menganggap penaklukan yang
dilakukan oleh Islam kepada beberapa wilayah sebagai upaya penyelamatan dari
bencana besar yang menimpanya. Mari kita baca pengakuan Claude Varir, Guru Besar
Fakultas Bahasa Timur di Du France College:
"Pada abad kedelapan Masehi bencana besar telah menimpa umat manusia yang barangkali merupakan bencana terburuk sepanjang abad pertengahan. Dunia Barat dibuat menderita selama tuiuh hingga delapan abad lamanya, sebelum akhirnya muncul era kebangkitan. Bencana besar itu tidak lain adalah kemenangan gemilang yang diperoleh oleh kelompok |erman dibawahpimpinan "Charles Martel" atas bangsa Arab dan.Barbar. Pada hari yang kelabu ini, peradaban yang telah ada sejak delapan ratus tahun lamanya seakan tenggelam. Cukuplah seseorang mengingat apa yang terjadi pada Perancis. Kalau bukan karena Islam yang pro-aktif, bijaksana, cerdas, dan toleran-karena Islam memiliki ini semua niscaya kita tidak akan pernah mendengar lagi nama Perancis sebagai negeri kita."
Kemurnian
Peradaban lslam
Sebagaimana telah kami sebutkan, peradaban Islam berangkat
dari nilai-nilai keislaman dan motivasinya untuk mempelajari ilmu pengetahuan.
Maka secara otomatis, untuk pertama kali peradaban Islam yang baru lahir harus
menguasai semua karya peradaban bangsa lain, baik dalam bidang keilmuan maupun pemikiran'
Kemudian setelah itu, Islam membangun peradaban baru di atasnya. Peradaban yang
paling menonjol pada masa permulaan peradaban Islam adalah perabadan Bizantium (Imperium
Romawi Timur) yang memiliki akar peradaban Yunani, Persia, India, dan Cina.
Tentang peradaban Yunani, kita akan membicarakan sebentar lagi secara terperinci.
Sedangkan dari peradaban Persia, peradaban Arab telah banyak mendapatkan
cara-cara hidup bermasyarakat, atau cara-cara yang berhubungan dengan masyarakat
madani dan kesenian. Demikian iuga dengan cara-cara pengelolaan administrasi
negara, pembukuan, dan sebagian unsur-unsur sastra.
Adapun dari peradaban India, peradaban Islam telah mendapatkan
nilai-nilai keilmuan yang sangat penting berhubungan dengan ilmu hitung (matematika),
astronomi dan sebagian unsur-unsur sastra, kesenian, dan cara hidup
bermasyarakat. Sedangkan dari peradaban Cina, mengingat jauhnya negeri ini dari
ibukota negara Islam seperti Damaskus, Baghdad, dan Mesir, maka ia tidak
terlalu berpengaruh kepada peradaban Islam' Sekalipun demikian, peradaban Islam
telah mendapatkan satu bentuk peradaban terpenting dari negeri Cina yang dianggap
sebagai bagian dari revolusi dalam peradaban Islam, yaitu industri kertas
. Mari kita kembali ke peradaban Bizantium dan akar peradabannya
yaitu Yunani, kemudian kita mulai membahas sejarahnya. Peradaban Helenistik tersebar
luas di negeri Yunani ketika ia telah berhasil ditaklukkan oleh serangan
militer Romawi yang berangkat dari Itali. Bahkan ia juga tersebar luas di
bagian Timur dari Imperium Romawi (Eropa Timur, Anatolia, Syam, dan Mesir),
tanpa terpengaruh oleh peradaban Romawi-sebagai peradaban penjajah-dan
tertaklukkan, karena peradaban Helenistik dan bahasa Yunani lebih kuat dan
lebih dalam akar peradabannya daripada peradaban Romawi dan bahasa Latin.
Ketika Imperium Romawi terbagi menjadi dua bagian pada tahun 395 Masehi, yaitu bagian
Barat (yang dikenal dengan sebutan Imperium Romawi Barat dan terdiri dari Itali
dan Eropa Barat), dan bagian Timur (yang dikenal dengan sebutan Imperium Romawi
Timur, atau Imperium Bizantium), peradaban Helenistik dan bahasa Yunani telah
tertanam kuat di salah satu bagian tersebut. Kemudian muncullah perhatian
kepada warisan peradaban Helenistik yang terdapat pada manuskripmanuskrip dan
kertas-kertas papirus yang dihasilkan oleh peradaban Yunani Kuno dan lembaga
pendidikan di Alexandria.
Ketika warisan peradaban Helenistik merupakan warisan
peradaban terbesar yang dikenal oleh bangsa Arab, dan lebih dapat diterima oleh
pemikiran Arab terutama pada awal terbentuknya peradaban Arab dan Islam, maka
bangsa Arab dan kaum muslimin mulai mempelajarinya lebih dari warisan peradaban
bangsa lainnya. Mereka lalu membuat pusat terjemah yang difasilitasi oleh
Pangeran Khalid bin Yazid pada masa Dinasti Umawiyyah dan telah mencapai puncak
kejayaannya pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid dan Al-Makmun pada masa
Dinasti Abbasiyah' Penerjemahan warisan peradaban Yunani ini difokuskan pada
ilmu-ilmu kedokteran, biologi, dan filsafat' Setelah menerjemah banyak buku dan
mempelajarinya, kaum muslimin kemudian mengkritik apa yang telah mereka terjemahkan
dan mulai memadukan antara berbagai macam peradaban-terutama peradaban Yunani
dan India, lalu mencari rumusan ilmu pengetahuan sendiri' Usaha ini telah
mendorong mereka untuk melakukan percobaan sehingga dapat membantu mereka mendapatkan
kemajuan yang sangat pesat dalam ilmu hitung (matematika), sebagaimana juga
pemikiran ilmiah itu telah banyak membantu mereka menemukan metode ilmiah
"scientific method" yang meliputi dasar-dasar untuk mendapatkan
berbagai macam pengetahuan ilmiah, baik berdasarkan dalil-dalil akal maupun eksprimen.
Dengan demikian, peradaban Islam menjadi peradaban yang sempurna untuk pertama kalinya
dalam sejarah kehidupan manusia dan memiliki semua kelayakan untuk menjadi
peradaban yang besar. ini benar benar terjadi dan Islam berhasil membuka
berbagai cabang ilmu pengetahuan dan pemikiran, termasuk di antaranya filsafat
dan logika yang menjadi spesialisasi bangsa Yunani.
Setelah Islam mencapai puncak kejayaannya dalam peradaban terjadilah konflik politik dan serangan militer yang pada gilirannya menyebabkan kejumudan dan keterbelakangan pemikiran di berbagai dunia Islam. Sebelum peradaban Islam tumbang, lahir peradaban lain dari rahim peradaban Arab dan Islam, yaitu peradaban Barat yang kita lihat sekarang.
Pusat
Terjemah dan Kebangkitan Eropa
Para ilmuwan Arab dan Islam menyebar ke kepulauan
Iberia (Spanyol dan Portugal), Perancis Barat, beberapa kepulauan terdekat dan
beberapa kepulauan di daerah Barat Tengah lainnya yang telah dikuasai oleh bangsa
Arab-baik dalam jangka waktu yang lama maupun singkat. Bangsa Arab juga pernah
tinggal di daerah bagian Italia dan Swiss, sekalipun hanya sementara. Pergaulan
orang-orang Arab yang baik kepada orang-orang Eropa telah membangkitkan kekaguman
mereka sehingga timbul keinginan untuk mempelajari peradaban bangsa Arab, ilmu
pengetahuan, kebudayaan, dan pola hidup nya. Dari sinilah, orangorang Eropa
mulai meniru oranS-orang Arab dalam hal hal yang mungkin dapat mereka tiru.
Bahkan seperti di Andalusia, mereka belajar bahasa Arab dan secara bertahap
mendalami ilmu pengetahuan bangsa Arab, sekalipun mereka beragama Kristen.
Para pecinta ilmu dari berbagai penjuru Eropa Barat lalu
berdatangan ke Andalusia, seperti Itali, Perancis, Swiss, |erman, dan kepulauan
Inggris. Mereka kemudian mulai mendalami ilmu-ilmu pengetahuan dan kebudayaan bangsa
Arab, lalu menyebarkan unsur-unsur peradaban Arab dan Islam ke berbagai penjuru
di Eropa. Pada saat itulah di Eropa mulai didirikan lembaga pusat terjemah
untuk menerjemahkan warisan pemikiran dan Keilmuan bangsa Arab dan Islam ke dalambahasa
Latin,yaitu bahasa ilmu pengetahuan dan agama di Eropa pada masa itu. Di
samping, sebagai bahasa pengantar orangorang Eropa antara satu dengan lainnya,
sama seperti bahasa Arab resmi sekarang. Di antara lembaga Pusat terjemah
tersebut adalah:
- Universitas Qordova
Lembaga terjemah di universitas ini terdapat di
Masiid Agung Qordova. Di Universitas inilah orang-orang Eropa belajar ilmu, di
antaranya seperti yar.g dikatakan oleh banyak saksi mata adalah Uskup Vatikan,
Silvaster II. Di universitas ini secara besar-besar berlangsung Penerjemahan buku-buku
Arab ke bahasa Latin, dan dari sinilah pemikiran ilmuwan besar seperti Ibnu Rusyd
dipindahkan ke Eropa.
- Sekolah Thulaithulah (Toledo)
Sekolah ini didirikan di kota Thulaithulah (Toledo), yaitu sebuah kota penting di negara Spanyol dan merupakan ibukotanya sebelum ditaklukkan oleh Islam. Di antara tokoh terkemuka dari sekolah ini yang telah menerjemahkan manuskrip-manuskrip berbahasa Arab ke bahasa Latin adalah Dominggo Guan De Silva dan ]irar Gherardo de Cremona yang berkebangsaan Itali, serta Ibnu Daud yang berkebangsaan Yahudi dan dikenal dengan nama Don Khuwan.
- Sekolah Salerno
Sekolah ini merupakan sekolah ilmu kedokteran yang
didirikan oleh Raja Sisilia, An-Nurmani, dan pembela kebudayaan Arab, Roger II.
Adapun guru guru yang mengajar di sekolah ini adalah para Ilmuwan muslim dan
Yahudi. Di antara tokoh terkemuka dari sekolah ini adalah Qastantin Al-Afriqi yang
berasal dari keturunan Arab dan Machael Scot dari Skotlandia yang merupakan
mediator antara Sekolah Toledo dan Sekolah Sa1erno. (Sebagai catatan: Sekolah
Salerno terletak di kota Salerno di Teluk Salerno atau di Barat Daya Itali)
Ketika terjadi demonstrasi menuntut pengembalian Andalusia dari tangan kaum muslimin, mereka berhasil mendapatkannya dan dengan demikian Andalusia telah jatuh secara mutlak ke tangan orang-orang Al-Qasytalah (Castilla) dan Al-Arguni (Aragon). Mereka juga berhasil merampas perpustakaan Arab yang besar yang merupakan harta kekayaan termahal di dunia dalam bidang ilmu pengetahuan dan pemikiran. Pada saat Toledo jatuh ke tangan Alfonso VI, Raja Castilla, tahun 1085 Masehi, para perampok Spanyol itu menjual perpustakaannya dengan koleksi bukunya yang berjumlah 500.000 jilid kepada Para pelancong. Kemudian pada saat jatuhnya Qordova tahun 1236 Masehi, perbuatan biadab ini terulang kembali. Perpustakaan Qordava dengan jumlah bukunya 440.000 jilid juga dijual. Demikian juga pada saat jatuhnya kota Gharnathah (Granada) tahun 1.492 Masehi, perpustakaan Granada dengan 500.000 Koleksi bukunya dijual. Bagaimana Pun para perampok dan penjajah Castilla dan Aragon adalah orang-orang bodoh dan tidak memperhatikan nilai dari buku-buku itu selain dari harganya setelah dijual. Para penjual bukubuku itu kemudian membawanya di atas unta mereka untuk dijual kepada orang-orang yangberani membayar dengan harga mahal. Konon, orang-orang Eropa yang berada di wilayah sekitar Prancis, Itali, dan jerman termasuk orang yang merindukan ilmu pengetahuan Arab dan kebudayaannya. Maka wajar kalau mereka memburu buku-buku itu dan membelinya dari penjualnya. Mereka kemudian mempelajarinya dan menerjemahkannya ke dalam bahasa latin dan berbagai bahasa Eropa lainnya. Waktu terus berjalan, dan setelah satu setengah abad atau dua abad berikutnya dampak positif dari mempelajari buku-buku Arab dan penerjemahannya telah terlihat, sehingga wajah dunia Eropa mulai berubah secara bertahap dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Akhirnya cahaya itu menerangi benua yang konon bodoh dan gelap sepanjang abad pertengahan. Adapun kebangkitan di benua Eropa pada awalnya dimulai dari Itali yang secara terus-menerus menggali berbagai potensi peradaban bangsa Arab dari Andalusia dan daerah Barat Daya Prancis seperti Sisilia pada saat yang bersamaan.
Sikap para pemikir Eropa dan ahli sejarahnya berbeda
beda dalam memberikan pengakuan terhadap keunggulan peradaban Islam atas peradaban
Eropa. Sebagian dari mereka mengingkari segala bentuk keunggulan peradaban
bangsa Arab dan kaum muslimin, bahkan mereka juga mengingkari bahwa kita pernah
memiliki peradaban yang besar. Kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa peranan
kaum muslimin hanya sebatas mentransfer karya peradaban bangsa Yunani ke Eropa,
atau bahwa mereka hanya sekedar "tukang Pos." Apa yang dilakukan oleh
kaum muslimin tidak lebih dari sekedar memindahkan warisan peradaban Eropa kuno
ke Eropa modern. Akan tetapi di sisi lain, sebagian pemikir dan ahli sejarah
Eropa memiliki sikap dan pandangan Yang berbeda tentang peradabanbangsa Arab
dan Islam. Mereka berpendapat bahwa peradaban bangsa Arab dan Islam adalah
peradaban yang secara langsung membantu kebangkitan Eropa dan peradaban dunia
saat ini. Mereka berpendapat demikian, karena mereka tidak mengikuti hawa
nafsu, tidak melihat bangsa Arab dari sisi yang negatif dan telah mempelajari
peradaban Arab dan Islam secara mendalam serta telah mengadakan penelitian sepanjang
hidupnya. Karena itu, hatinya sadar dan enggan untuk mengakui kecuali yang
sebenarnya. Berikut akan kami paparkan sebagian pengakuan mereka dan akan kami
bahas secara detil dalam pembahasan karya peradaban Islam, dan tentu saja
pengakuan ini cukup menggetarkan jiwa.
-
Spencer Vamiri, seorang Orientalis, mengatakan, "Tidak
ada seorang Pun ilmuwan yang merenungkan tentang kubah biru tanpa mengucapkan
nama Arab, dan tidak mungkin ilmuwan biologi dapat mengolah daun pohon menjadi
kertas, atau memetakan padang pasir tanpa teringat kepada pelajaran-pelajaran
dari bangsa Arab. Demikian juga dengan seorang dokter tidak akan mampu untuk menelusuri
bagian yang sakit pada manusia yang telah dikenal sejak dulu kecuali
terinspirasi dari pemikiran dokter Arab. Bahkan, tidak seorangpun penjelajah
yang sampai ke penjuru Asia dan Afrika tanpa berpedoman kepada referensi-referensi' berbahasa
Arab."
- Filsuf Perancis, Gustav Le Bon, dalam bukunya "Peradaban Arab,"
mengatakan, "Apakah kita dapat memastikan bahwa bangsa Arab satu-satunya
yang telah menunjukkan kita kepada dunia Yunani dan Latin kuno, dan bahwa
universitas-universitas Eropa, diantaranya Universitas Paris yang berdiri sejak
enam ratus tahun lamanya telah menerjemahkan buku-buku bangsa Arab dan
mengadakan penelitian seperti metode mereka?
Dengan
demikian, peradaban Islam merupakan Peradaban yang paling mengagumkan sepanjang
sejarah."
- Orientalis Jerman, Zigrid Hunke, mengatakan dalam bukunya "Matahari Allah ada di
Barat," "Etopa merupakan kota milik bangsa Arab dan peradaban Arab. Hutang
bangsa Eropa dan semua benua kepada Arab sangat besar. Semestinya bangsa Eropa
mengakui keutamaan ini sejak dahulu kala. Akan tetapi Perasaan fanatis dan
perbedaan akidah telah membutakan mata kita. Bahkan ketika kita membaca buku
sebanyak sembilan puluh delapan dari seratus, tidak satu pun kita dapatkan
dalam buku itu yang menyebutkan tentang keutamaan bangsa Arab dan ilmu pengetahuan
yang diajarkan kepada kita, kecuali suatu pernyataan yang menganggap bahwa orang
Arab tidak lebih dari sekedar 'tukang pos/ yang telah menyampaikan kepada kita warisan
peradaban bangsa Yunani." Sebagaimana ia juga mengatakan dalambuku yang
sama, "Tidak ada satu pun ilmuwan di pusat-pusat ilmu pengetahuan Eropa
kecuali ia telah menengadahkan tangannya untuk mendapatkan khazanah ilmu
pengetahuan bangsa Arab, dan kehausan seperti mereka haus untuk mendapatkan air
tawar. Tidak ada di sana satu buku pun di antara buku-buku yang ada di Eropa
pada saat itu, kecuali semua lembarannya bersumber dari peradaban bangsa
Arab."



Comments
Post a Comment